
Ban mobil adalah komponen mobil yang perannya sangat krusial. Itu sebabnya, kondisi ban mobil harus selalu dalam keadaan bagus. Salah satu masalah yang sering terlewatkan adalah ban mobil botak, yaitu ketika permukaan tapaknya sudah habis.
Memakai ban mobil botak tentu memiliki beragam konsekuensi yang bisa membahayakan pengendara. Apa saja risiko ban mobil botak yang mungkin saja terjadi? Simak penjelasannya di bawah ini!
Risiko Ban Mobil Botak
Rentan Terjadi Hydroplaning Saat Hujan
Pertama, risiko ban mobil botak yang sering terjadi adalah hydroplaning. Tapak ban dirancang untuk membuang air agar roda tetap mencengkeram aspal, terutama ketika jalan basah. Ketika ban sudah botak, air tidak dapat dialirkan dengan baik sehingga ban kehilangan kontak langsung dengan permukaan jalan. Dalam situasi seperti ini, setir menjadi sulit dikendalikan dan mobil dapat tergelincir tanpa peringatan, khususnya saat melaju dengan kecepatan tinggi.
Lihat juga: Cek Kaki-Kaki Mobil Sebelum Mudik! 3 Komponen Ini Wajib
Jarak Pengereman Menjadi Lebih Panjang
Daya cengkeram ban juga sangat berpengaruh terhadap efektivitas pengereman. Ban yang sudah aus tidak mampu menciptakan gesekan optimal dengan aspal. Akibatnya, kendaraan membutuhkan jarak lebih jauh untuk berhenti secara sempurna. Dalam kondisi darurat, selisih beberapa meter saja bisa menentukan apakah tabrakan dapat dihindari atau tidak. Risiko ini semakin besar saat jalan dalam kondisi licin atau basah.
Risiko Pecah Ban yang Lebih Tinggi
Selain mengurangi daya cengkeram, ban botak juga lebih rentan terhadap panas berlebih. Tapak ban yang menipis membuat struktur karet bekerja lebih keras dan tidak mampu meredam suhu dengan baik. Saat digunakan untuk perjalanan jauh atau dalam kecepatan tinggi, kondisi ini dapat memicu pecah ban secara tiba-tiba. Pecah ban di tengah perjalanan, terutama di jalan tol, sangat berbahaya karena dapat menyebabkan kendaraan kehilangan keseimbangan dan kendali.
Lihat juga: Cara Mengatur Spion Mobil agar Tidak Menimbulkan Blindspot
Kendaraan Lebih Mudah Kehilangan Kendali
Ban yang masih memiliki alur akan membantu menjaga stabilitas ketika mobil berbelok atau bermanuver. Sebaliknya, ban botak membuat kendaraan lebih mudah selip, baik saat menikung, menghindari rintangan, maupun ketika melintas di permukaan jalan yang tidak rata. Hilangnya traksi dalam hitungan detik saja dapat menyebabkan kendaraan keluar jalur atau bahkan terguling.
Meningkatkan Risiko Kecelakaan Fatal
Semua dampak di atas pada akhirnya mengarah pada satu konsekuensi serius, yaitu meningkatnya kemungkinan kecelakaan. Kombinasi antara jarak pengereman yang lebih panjang, potensi selip, hingga risiko pecah ban menjadikan penggunaan ban botak sebagai ancaman nyata bagi keselamatan pengemudi dan penumpang.
Ban mobil botak bukan sekadar tanda keausan biasa, melainkan peringatan bahwa keselamatan berkendara sedang terancam. Mengabaikan kondisi tapak ban dapat berujung pada kehilangan kendali, kecelakaan, bahkan risiko fatal di jalan raya. Oleh karena itu, pemeriksaan rutin dan penggantian ban tepat waktu merupakan langkah penting untuk menjaga keamanan selama berkendara.
Lihat juga: Tips Memilih Aksesori Mobil Tambahan agar Lebih Nyaman
Mengecek Tekanan Udara Ban dengan Mirai TPMS
Mengetahui keadaan ban mobil secara berkala memang cukup penting. Dengan begitu, Aisuka bisa menentukan kapan sebaiknya mengganti ban mobil. Salah satu keadaan ban mobil yang bisa dicek adalah tekanan udara di dalamnya.
Kabar baiknya, headunit Mirai TPMS memiliki fitur unggulan yaitu kemampuan mengecek tekanan udara ban mobil secara real-time. Dengan adanya sensor Bundle with Tire Pressure Monitoring Sensor, keadaan tekanan udara pada ban mobil bisa dilihat dengan mudah di layar headunit. Alat sensornya dipasang pada seluruh ban mobil, sehingga informasi yang didapatkan pun secara real-time.
Kecanggihan headunit Mirai TPMS ini tentu sangat membantu para pengendara yang selalu menjaga keamanan dan kenyamanan mobil.
Klik di sini untuk dapatkan produknya!
Media Sosial:
Instagram: Mirai Car Entertainment